Fenomena Hot-Cold Empathy Gap, Ketika Sulit Memahami Perilaku Orang Lain Dan Merasa Tidak Dimengerti Oleh Orang Lain oleh Lia Nurul Hidayah Mahasiswi Prodi Psikologi 2020 Universitas Brawijaya.

Sahabat Edukasi yang berbahagia… Pernahkah anda merasa tidak di mengerti oleh orang lain? Lalu bergumam “mengapa  orang-orang tidak bisa mengerti apa yang saya rasakan? Sepertinya juga percuma kalau saya cerita, mereka tidak pernah bisa mengerti saya”. atau pernahkah anda berada dalam situasi ketika ada seseorang yang sedang dalam keadaan emosi yang tidak stabil dan orang tersebut melakukan suatu tindakan yang menurut anda berlebihan, kemudian anda berpikir “bagaimana bisa dia melakukan hal-hal seperti itu, kalau saya tidak mungkin melakukan hal seperti yang dia lakukan”.

Mengapa anda merasa orang lain tidak bisa memahami apa yang anda rasakan dan anda tidak bisa mengerti mengapa seseorang bertindak seperti itu? karena setiap individu tidak merasakan emosi (affective state) yang sama dengan individu yang lainnya. perbedaan perasaan dan frekuensi tersebut yang membuat orang lain sulit untuk memahami apa yang anda rasakan begitu pula sebaliknya. orang lain hanya bisa membayangkan emosi dari cerita yang anda ungkapkan namun kebanyakan dari mereka tidak merasakan emosi dan proses yang sesungguhnya. begitu juga ketika anda sulit untuk menerima suatu tindakan ataupun keputusan orang lain dalam menghadapi situasi tertentu karena anda cenderung untuk menilai berdasarkan perspektif pribadi anda tanpa mencari faktor penyebab yang mempengaruhi emosi dan tindakan seseorang tersebut.


Ketika anda merasa mengalami kesulitan untuk mengerti perbuatan seseorang dan tidak mengerti mengapa orang tersebut melakukan suatu tindakan di situasi tertentu, dan ketika anda ingin bercerita tentang masalah anda ke orang lain namun anda merasa mereka tidak bisa mengerti apa yang anda nginkan, kemungkinan anda mempunyai masalah hot-cold empathy gap. Hot-cold empathy gap merupakan kondisi bias kognitif yang dapat menyebabkan seseorang kesulitan untuk memprediksi pikiran dan tindakan orang lain yang mempunyai perbedaan emotional state, yang pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi viseral seseorang. Kondisi viseral yang menyebabkan seseorang dapat merasakan suasana hati dan emosi, lapar, haus, hasrat s3ksual, sakit fisik, kec4nduan. (Loewenstein, 1996).

Menurut seorang psikolog yang bernama Paul Eckman, emosi dasar terbagi menjadi 6 jenis yaitu: bahagia, sedih, marah, takut, jijik, dan terkejut. Di dalam hot-cold empathy gap terdapat dua tipe dari emosional state, yaitu cold state dan hot state. Cold state ini merupakan keadaan di mana anda merasa rasional dan stabil dalam berpikir (tenang, nyaman, collected, rational dll). Sementara hot state itu kebalikannya, yaitu keadaan dimana anda berpikir secara irasional (takut, khawatir, kalut, marah, sedih, lapar,haus dll).  Ketika anda berada di dalam situasi cold state, akan sulit bagi diri anda untuk membayangkan jika anda sedang dalam keadaan hot state. sebaliknya, ketika anda sedang dalam keadaan hot state, sulit bagi anda untuk membayangkan diri anda ketika sedang dalam keadaan tenang (loewenstein, 1996- 2005).

Contohnya: ketika anda sedang merasa sangat lapar, anda cenderung berpikir secara irasional, sulit bagi anda untuk berpikir secara rasional. tanpa berpikir panjang anda langsung pergi ke sebuah rumah makan dan memesan semua menu yang terlihat menggiurkan. ketika makanan tersebut sudah di sajikan anda akan kembali ke dalam keadaan cold state, anda sudah bisa kembali berpikir secara rasional, dan baru menyadari jika makanan yang anda pesan itu sangat banyak dan anda tidak sanggup untuk menghabiskannya.

Pemindaian otak menunjukkan bahwa otak tidak bekerja dengan cara yang sama ketika seseorang membuat suatu keputusan dengan keadaan yang rasional, dengan dimana anda dihadapkan pada pilihan yang “hot state”,  prefrontal cortex dan amygala menjadi lebih aktif (kang MJ dan camerer 2013). artinya, kedua emotional state ini akan memengaruhi bagaimana anda melihat keadaan atau kondisi, bagaimana anda memperoses sebuah informasi, lalu bagaimana anda mengambil sebuah keputusan. tergantung keadaan mental anda saat itu.

Behavior seseorang dalam menyalurkan suatu emosi berbeda-beda. behavior dipengaruhi oleh faktor personal dan faktor lingkungan dari masing-masing individu. Faktor personal meliputi kepribadian, motivasi, gaya hidup, cara berpikir, sikap individu dan lain sebagainya. Faktor personal membentuk bagaimana cara anda dalam menilai, melihat, merespons sesuatu, dan juga mengambil sebuah keputusan di dalam hidup anda. Faktor personal dari setiap orang itu berbeda-beda tergantung pengalaman ataupun situasi dari setiap individu, maka dari itu orang lain tidak bisa memprediksi keadaan emosi anda seperti apa.

Konsekuensi yang di timbulkan dari fenomena ini tidak hanya ke diri sendiri tetapi juga ke orang lain. Fenomena ini dapat memengaruhi diri sendiri dalam mengambil sebuah keputusan yang kurang tepat atau kurang bijak. ketika anda tidak bisa mengerti keadaan emosi anda apakah berada di dalam situasi cold state atau hot state jangan mengambil sebuah keputusan. Anda mungkin sering mendengar atau melihat quotes  “don’t promise when you are happy, don’t reply when you are angry, don’t decide when you are sad” (Ziad K. Abdelnour).

Fenomena hot-cold empathy gap juga dapat menyebabkan seseorang menjadi jugdemental terhadap reaksi orang lain karena tidak mengenali orang lain dengan baik dan cendrung untuk menilai orang lain salah karena mereka bertindak secara irasional tanpa menyadari situasi mereka berada di dalam hot state. Anda juga bisa salah paham terhadap situasi orang lain, oleh karena itu anda perlu memahami emosi orang lain dan jujur terhadap emosi anda sendiri. Setiap orang mempunyai takaran emosi yang berbeda begitu pula cara seseorang dalam mengekspresikan emosinya baik dalam situasi cold state maupun hot state.

Jangan menjadikan kesan pertama dalam menilai karakter seseorang, mengenali karakteristik orang membutuhkan kesabaran dan waktu, ada banyak alasan mengapa seseorang bertindak seperti itu dalam situasi tertentu. Hot cold empathy gap memang menghalangi proses seseorang untuk berempati tetapi bukan berarti anda tidak bisa, yang anda butuhkan adalah memahami dengan tenang dan sabar. Ada beberapa hal yang kita tidak bisa kendali yaitu perkataan, pikiran, dan perasaan orang lain, namun anda bisa mengendalikan pikiran, tindakan, dan cara anda memperlakukan orang lain. Dan yang paling penting adalah jangan menghakimi seseorang di saat terburuknya, karena selalu ada cerita dibalik setiap orang yang anda tidak pernah tahu dan selalu ada alasan mengapa mereka bisa sampai di titik itu.

Kiriman : Lia Nurul Hidayah (lianurulhidayah@student.ub.ac.id). Prodi Psikologi 2020 Universitas Brawijaya.


Ingin karya tulis Anda terpublikasi di situs web www.salamedukasi.com 
GRATIS,  info lebih lanjut silahkan klik di sini.

0 Response to "Fenomena Hot-Cold Empathy Gap, Ketika Sulit Memahami Perilaku Orang Lain Dan Merasa Tidak Dimengerti Oleh Orang Lain oleh Lia Nurul Hidayah Mahasiswi Prodi Psikologi 2020 Universitas Brawijaya."

Post a comment