RUMAH
STUNTING: MENJAGA ASA, MERAWAT
INOVASI | Ketika Dukungan
Dana Desa Tergerus, Komitmen Masyarakat Tebo Jangan
Ikut Padam
Oleh : Richy Vernando
Saputra, SKM., M.Si
(Perencana Bapperida Kab. Tebo / Anggota Tim
TP3S Stunting Kab. Tebo) Komplek Perkantoran Pemkab Tebo, KM.12 Muara Tebo | rq83.vnando@gmail.com
Stunting bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah. Di balik angka tersebut ada anak yang sedang tumbuh, ibu yang sedang mengandung, keluarga yang sedang berjuang, dan masyarakat yang berharap generasi berikutnya dapat tumbuh lebih sehat daripada generasi sebelumnya. Karena itu, setiap inovasi yang lahir dari kepedulian masyarakat untuk mencegah stunting sesungguhnya bukan sekadar program. Itu adalah bentuk harapan.
Salah satunya adalah Rumah Stunting.
Rumah Stunting lahir dari kesadaran bahwa penanggulangan stunting tidak mungkin
hanya dibebankan kepada pemerintah. Ia membutuhkan keterlibatan masyarakat,
kader, keluarga, pemerintah desa, tenaga kesehatan dan berbagai unsur lainnya.
Rumah Stunting menjadi ruang tempat
berbagai kepedulian itu dipertemukan. Ada edukasi, Ada pendampingan, Ada
pemantauan, dan Ada kepedulian terhadap ibu dan anak, serta Ada masyarakat yang
mencoba mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan pembangunan manusia.
STRATEGI REORIENTASI GERAKAN DESA
Namun hari ini muncul
sebuah tantangan baru. Bagaimana
menjaga inovasi tersebut tetap hidup ketika dukungan pembiayaan desa semakin
terbatas? Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Jangan sampai ketika Dana Desa tergerus, semangat masyarakat juga ikut
tergerus. Jangan sampai ketika anggaran berkurang, inovasi yang telah dibangun
dengan susah payah justru kehilangan energi. Sebab stunting tidak mengenal tahun anggaran.
Dana Desa Berkurang, Apakah Inovasi Harus Berhenti?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar
sederhana. Tetapi sesungguhnya memiliki implikasi kebijakan yang besar. Selama
ini banyak inovasi desa tumbuh karena adanya
ruang fiskal yang memungkinkan pemerintah desa membiayai kegiatan. Ketika ruang tersebut menyempit,
sebagian inovasi menghadapi dilema: dikurangi, digabungkan, atau bahkan
dihentikan.
Rumah Stunting pun berpotensi menghadapi persoalan
serupa. Tetapi kita perlu melihat persoalan ini dari sudut pandang berbeda.
Apakah Rumah Stunting sebenarnya bergantung kepada uang, atau bergantung kepada
cara kita mengorganisasikan komitmen masyarakat?
Jika
Rumah Stunting hanya
dipahami sebagai kegiatan yang membutuhkan anggaran, maka
ketika anggaran berkurang, keberadaannya memang akan melemah. Namun jika Rumah
Stunting dipahami sebagai gerakan masyarakat, maka anggaran hanyalah salah satu
instrumen. Dan di sinilah letak perbedaannya. Program membutuhkan anggaran
untuk berjalan. Gerakan membutuhkan komitmen untuk bertahan.
Rumah Stunting Jangan
Berhenti pada Sebuah Bangunan
Kata
“rumah” dalam Rumah Stunting
seharusnya tidak dimaknai semata-mata sebagai bangunan fisik. Rumah adalah
simbol tempat berkumpul. Tempat berdiskusi. Tempat berbagi pengetahuan. Tempat
menemukan solusi. Dan yang paling penting, tempat masyarakat menunjukkan kepedulian. Karena itu, ketika
anggaran pembangunan atau operasional terbatas, bukan berarti
Rumah Stunting harus kehilangan makna.
Justru konsepnya perlu diperkuat. Rumah
Stunting dapat bergerak melalui
Posyandu. Dapat hidup melalui
kader. Dapat hadir dalam kunjungan keluarga. Dapat berkolaborasi dengan
Puskesmas. Dapat bersinergi dengan PKK. Dapat memanfaatkan ruang desa yang
sudah tersedia. Dapat didukung dunia usaha. Dapat diperkuat perguruan tinggi.
Dengan kata lain: Yang harus dipertahankan bukan sekadar rumahnya, tetapi
gerakannya. Dari “Program” Menjadi
“Gerakan”.
Inilah momentum yang sebenarnya.
Keterbatasan fiskal desa seharusnya menjadi kesempatan bagi Kabupaten Tebo untuk melakukan
reorientasi inovasi. Rumah Stunting
perlu diarahkan dari program menjadi gerakan, anggaran menjadi
kolaborasi, kegiatan menjadi pendampingan, penerima bantuan menjadi keluarga
yang diberdayakan, data menjadi tindakan.
Perubahan ini penting karena stunting
merupakan persoalan multidimensi. Kesehatan saja tidak cukup. Gizi saja tidak cukup.
PMT saja tidak
cukup. Posyandu saja tidak
cukup. Bahkan pemerintah desa saja tidak cukup. Stunting membutuhkan
konvergensi.
EKOSISTEM KOLABORASI GOTONG ROYONG
Masyarakat Adalah
Modal Sosial yang Sering
Kita Lupakan
Dalam pembangunan daerah, kita sering
menghitung APBD, Dana Desa, bantuan pemerintah dan investasi. Tetapi ada satu modal
yang sering luput dihitung : Modal sosial masyarakat.
Kader yang mau datang ke rumah warga. Ibu-ibu PKK yang mau mengedukasi
keluarga. Tokoh masyarakat yang mau menggerakkan warga. Bidan desa yang terus
memantau. Orang tua yang mau membawa anaknya ke Posyandu. Pemuda yang mau membantu
kegiatan sosial.
Itulah sesungguhnya energi Rumah
Stunting. Dan energi tersebut tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Yang
dibutuhkan adalah: kepemimpinan, koordinasi, penghargaan dan ruang partisipasi.
Membangun Model Pembiayaan yang Tidak Rapuh
Namun demikian, tidak berarti
pemerintah boleh melepaskan tanggung jawab pembiayaan. Justru pemerintah daerah harus hadir untuk memastikan inovasi masyarakat memiliki ekosistem pendukung. Dana Desa tetap penting. Tetapi perlu
dilengkapi dengan sumber daya lainnya. Misalnya : APBD Kabupaten + Dana Desa + CSR/ TJSL dunia usaha + dukungan perguruan tinggi +
filantropi dan lembaga sosial + partisipasi masyarakat.
Bukan berarti semua sumber tersebut
harus membiayai hal yang sama. Justru perlu ada pembagian peran. Pemerintah
menyediakan kebijakan dan sistem. Desa mengorganisasikan masyarakat. Puskesmas
memastikan intervensi kesehatan. Kader melakukan pendampingan. Dunia usaha
mendukung sumber daya. Perguruan tinggi memberikan
pengetahuan dan evaluasi. Masyarakat
menjadi pelaku utama. Inilah yang disebut gotong royong dalam bentuk kebijakan
publik.
Jangan Hanya Mengejar Angka
Stunting
Kita tentu membutuhkan angka
prevalensi stunting. Tetapi jangan sampai seluruh energi kebijakan hanya
diarahkan untuk mengejar angka. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah
ibu hamil berisiko sudah ditemukan? Apakah bayi dan balita sudah dipantau? Apakah
keluarga berisiko sudah didampingi? Apakah anak yang pertumbuhannya bermasalah
segera mendapatkan intervensi? Apakah keluarga memahami pentingnya gizi dan
pengasuhan?
Kalau semua pertanyaan tersebut dapat
dijawab dengan baik, maka angka stunting akan mengikuti. Karena itu, Rumah Stunting
harus menjadi sistem deteksi
dini dan pendampingan keluarga, bukan sekadar tempat pelaksanaan kegiatan.
Rumah Stunting
dan Masa Depan Tebo
Pada akhirnya, perdebatan tentang
Rumah Stunting bukan sekadar perdebatan tentang anggaran. Ini adalah perdebatan
tentang pilihan pembangunan manusia. Apakah kita ingin membiarkan inovasi
masyarakat mati karena keterbatasan pembiayaan? Atau kita menjadikannya
momentum untuk memperkuat kolaborasi? Apakah kita ingin terus membangun program
baru? Atau memperkuat inovasi masyarakat yang sudah terbukti memiliki
akar sosial? Pertanyaan tersebut penting
karena pembangunan daerah tidak selalu membutuhkan sesuatu yang baru. Kadang-kadang kita hanya perlu merawat sesuatu yang sudah baik agar tidak mati.
Asa Itu Ada
di Masyarakat
Rumah Stunting mungkin tidak selalu
memiliki gedung yang megah.
Mungkin tidak memiliki
anggaran yang besar. Mungkin tidak selalu menjadi program yang
mendapatkan sorotan. Tetapi di dalamnya ada sesuatu yang jauh lebih penting:
kepedulian. Kepedulian seorang kader. Kepedulian seorang ibu. Kepedulian tenaga
kesehatan. Kepedulian pemerintah desa. Dan kepedulian
masyarakat terhadap masa depan anak-anak Tebo.
Karena itu, ketika Dana Desa
mengalami tekanan, jangan biarkan Rumah Stunting ikut padam. Yang harus kita
lakukan bukan hanya mempertahankan anggarannya, tetapi mempertahankan
semangatnya. Sebab pada akhirnya; Rumah Stunting bukan sekadar
rumah. Ia adalah simbol bahwa masyarakat Tebo pernah dan masih memiliki
kepedulian untuk melindungi generasinya. Dana Desa boleh tergerus. Ruang fiskal
boleh menyempit. Program boleh berubah. Tetapi asa tidak boleh hilang. Karena
anak-anak Tebo hari ini adalah
masa depan Tebo esok hari. Dan selama masih ada masyarakat
yang peduli, Rumah Stunting harus tetap menyala. Bukan karena besarnya
anggaran, tetapi karena besarnya komitmen. Bukan karena kuatnya program, tetapi
karena kuatnya gerakan masyarakat.
Profil
Penulis :
- Penulis merupakan Kasi Perencana Kesehatan pada Dinkes
Tebo periode (2010-2013) serta Kasi Pengendalian dan Penaggulangan Penyakit
Menular (P2PM) pada Dinkes Tebo periode (2017-2020)
- Saat ini, Penulis bertugas sebagai Sub Koordinator SDM
dan Kependudukan di Bapperida sejak 2020 sekaligus sebagai Anggota TP3S
Stunting Kabupaten Tebo yang sedang berproses pelaksanaan UKOM menuju
fungsional Perencana Ahli Madya pada Pusbidiklatren Bappenas
RI (2026).
0 Response to "Rumah Stunting: Menjaga Asa, Merawat Inovasi | Ketika Dukungan Dana Desa Tergerus, Komitmen Masyarakat Tebo Jangan Ikut Padam"
Post a Comment