Cerpen “Tiga Kata Terakhir” Oleh Eva Nur Fitriyani Jurusan Hukum Ekonomi Syariat UIN Saizu Purwokerto

Publikasikaryatulis, salamedukasi.com - Kata ialah sesuatu yang susah di ungkapkan apalagi yang berkaitan dengan hati manusia, namun kalau digabungkan hati dan pemikiran, itu akan lebih baik dari sebelumnya. Meskipun demikian, apakah semua orang mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya walau saat di saat ambang kematian? Ya, seperti itulah kisah Silvi dan Dito, dimana rezki, jodoh dan umur siapa yang tau. Hari ini, lagi-lagi langit kembali menangis diiringi kilatan guntur yang begitu menggelegar.” Ada apakah gerangan? Mungkinkah langit sedang marah pada seseorang?” batin Silvi sembari termenung menyaksikan hujan dari balik jendela kamarnya. 

Hujan tersebut rupanya mulai mengusik pikiran Silvi dan membawa Silvi kembali ke masa lalunya. Dimana masa lalu yang akan selalu Silvi ingat dalam hidupnya, karena seseorang yang pernah hadir yang mengubah cara dia memandang kehidupan dengan baik, tapi takdir berkata lain orang yang sangat ia cintai dan sayangi harus di ambil oleh yg maha kuasa.  Malam itu Silvi berjalan sembari bersenda gurau bersama Dito, tunangannya menyusuri jalanan di depan komplek rumah. 

Mereka tampak begitu bahagia, pasalnya besok adalah hari yang sangat mereka dambakan sejak lama. Ya... esok adalah hari pernikahan mereka. Namun itu semua hanya angan-angan, ketika mereka hendak menyeberang jalan. Saat mereka sedang berjalan, tiba-tiba dari ujung jalan sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi. Mereka tidak menyadari keberadaan mobil tersebut karena mereka terlalu larut dalam dunia mereka. “Toootttt.....!” Secara reflek Dito mendorong tubuh Silvi ke tepi jalan. Akhirnya terjadilah tabrakan yang tidak di inginkan semua orang. 

Kemudian ia terkejut, lalu menoleh ke arah Dito. Dengan tatapan yang sulit di artikan Silvi memandang jalanan yang sudah dilumuri darah, Silvi bergegas lari menghampiri Dito. Isak tangis pun tak terbendung lagi di pelupuk mata Silvi, ia langsung memeluk tubuh Dito yang sudah berlumuran darah. “Dito kamu harus kuat, kamu pasti bisa bertahan” ucap Silvi. Kemudian Dito tersenyum, Dito menyentuh pipi Silvi dengan tangan yang berlumuran darah sembari mengatakan “I Love You”. Belum sempat Silvi membalas ucapan Dito, Dito sudah memejamkan mata dan meninggalkan Silvi untuk selamanya. “Ditoooo” teriak Silvi mengiringi kepergian Dito. Tanpa disadari langit pun turut menangis seakan merasakan kesedihan Silvi yang teramat dalam. Malam itu adalah malam yang penuh penyesalan bagi Silvi.



“Silvi ayo turun nak, makan malam” panggil bunda. “Iya bun, sebentar sahut Silvi, tersadar dari lamunannya. Silvi menghampiri meja di sebelah tempat tidurnya, mengambil sebuah foto. Silvi memegang foto tersebut dan menatap dengan penuh makna. Ya... itu adalah fotonya bersama Dito. “Dito aku merindukanmu, kamu sudah bahagia kan disana? Tidak terasa sudah lima tahun berlalu, sekarang aku sudah bisa bangkit dari keterpurukanku atas meninggalnya dirimu, walau sakit ini tidak akan pernah hilang” Pagi hari ini, Silvi menyambut matahari dengan senyuman yang hangat, ia berniat akan jalan-jalan pagi di taman dekat komplek rumah. Tapi belum lama Silvi berjalan, tatapan matanya menangkap seseorang yang sangat ia rindukan, orang itu sangat mirip

Akhirnya Silvi menghampiri orang tersebut dengan perasaan campur aduk dan air mata yang berlinang. Namun orang tersebut hanya cuek, lalu Silvi memanggilnya dengan nama Dito, sungguh ajaib orang tersebut menoleh dan terkejut dengan apa yang dia lihat, yaitu ia melihat seseorang yang pernah dekat dengan kembarannya. 

Lalu ia menjawab “Mungkin anda salah orang,ooohh ya perkenalkan nama saya Diki bukan Dito dan saya adalah kembarannya Dito”. Sungguh aneh tapi ini nyata, karena Dito tidak pernah menceritakan tentang kembarnnya yaitu Diki. Namun saat Silvi ingin lari Diki mencekal tangannya dan berkata “Maaf sebelumnya apa bisa kita bicara? lalu Silvi hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan Diki pun menceritakan semuanya. Sebelum Dito meninggal ia pernah berkata pada Diki ”Tolong jaga dan lindungi Silvi sebagaimana gue menyayangi dia” lalu Diki menjawab”lo ngomong apa sih,kayak mau pergi jauh aja,khawatir gue ”Namun dito hanya tersenyum lalu pergi dari hadapan Diki.Hingga sekitar 2 jam Diki menceritakan semuanya dan mengantar Silvi sampai rumah. 

Alangkah terkejutnya kedua orang tua Silvi saat bertemu Diki tapi Silvi menceritakan semuannya setelah Diki pulang. Setelah satu minggu berlalu, Silvi berkecambuk dengan pemikiran sendiri tentang apa yang telah terjadi dalam kamarnya. Akhirnya ia turun dan berpamitan pada orang tuanya untuk pergi bersama Diki karena dalam satu minggu ini Diki selalu mengajak Silvi untuk jalan berdua. Tanpa mereka sadari dengan kedekatan mereka berdua terbesitlah rasa suka dalam diri Diki karena Silvi selalu memperlakukannya seperti Dito, tapi ia sadar tugasnya hanya untuk melingdungi Silvi tidak lebih. 

Lambat laun waktu berlalu mereka semakin dekat, namun setiap Silvi akan mendapat kebahagian kenapa ia harus mendapatkan sakit juga seperti yang sudah ia pernah alami sebelumnya, akankah Diki akan bernasib sama dengan kembarannya karena sudah 2 kali ia bersama Diki, Silvi selalu merasakan ada seseorang yang mengawasinya dari jarak jauh ada seseorang yg ingin mencelakakan Diki. Tapi ia tidak mau berprasangka buruk dulu, mungkin itu hanya perasaanya aja. Akhirnya lamunan silvi berakhir karena Diki mau ngomong serius. Di sana Diki menyatakan perasaannya bahwa ia mencintai Silvi. Ia pun kaget dan mempertimbangkan dulu masalah ini, namun ia mengenang kembali apa yang Diki lakukan untuk membuatnya bangkit akhirnya ia menerima Diki.Keluarga Silvi pun merima Diki dengan senang hati. Dan beberapa minggu kemudian mereka bertunangan.

Akhirnya aku menemukan orang yang bisa menerimaku walaupun dia tahu aku masih mencintaimu. Wajahnya sangat mirip denganmu, hanya saja dia lebih aktif darimu. Ya. dia adalah Diki Anggara, saudara kembarmu. Besok kami akan menikah, aku harap kamu juga merestui pernikahanku dengan Diki.” Ucap Silvi sembari menghapus air matanya. Kemudian Silvi meletakkan fotonya dan bergegas menuju ruang makan. Sampai di ambang pintu, langkah Silvi terhenti. Silvi pun menoleh ke belakang ke arah fotonya bersama Dito. “Aku akan selalu mencintaimu Dito” ucap Silvi tulus dalam hati.   

“Silvi, kok lama banget nak turunnya, Diki sudah menunggu lhoo dari tadi” ucap sang bunda. “Iya bunda maafin Silvi, tadi siap-siap dulu” ucap Silvi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Tidak apa-apa kok bun, lagian Diki juga belum lama nunggunya kok” ucap Diki tersenyum kearah Bunda kemudian melirik ke arah Silvi sekejap. Silvi yang sadar akan lirikan Diki, kemudian duduk disebelahnya. “Bun berhubungan Silvi sudah siap, kita langsung pergi ya bun” ucap Diki kemudian diangguki oleh Bunda. “Diki jaga baik-baik Silvi nya ya, bunda percaya sama kamu” ucap bunda. Kemudian Diki dan Silvi tersenyum lalu menyalami wanita paruh baya itu.

Saat dalam perjalanan menuju gedung yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan mereka, Silvi terlihat murung dan tak mengeluarkan kata sedikit pun. Diki yang sadar akan hal itu akhirnya membuka suara “Silvi, aku tau mungkin kamu belum ikhlas melepaskan kepergian Dito lima tahun yang lalu. Dan mungkin kamu belum mencintaiku sepenuhnya seperti kamu mencintai Dito. Aku akan selalu sabar menanti saat kamu mencintaiku seperti kamu mencintai Dito” ucap Diki yang tetap fokus dengan kemudi mobilnya. Mendengar ucapan Diki, Silvi tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Diki dengan mata yang berkaca-kaca. 

“Maafkan aku....” ucapnya. Diki tersenyum, menepikan mobilnya lantas berkata “Tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah kok” kemudian Diki mengacak-acak rambut Silvi dengan jahil. “Jangan menyakiti dirimu dengan berusaha melupakan masa lalu. Berusahalah berdamai dengan masa lalu, karena masa lalu bukan untuk dilupakan tapi untuk dikenang” tambah Diki. Mendengar ucapannya, Silvi tak kuasa lagi membendung air mata dan menangis tersedu-sedu di pelukan Diki.

“Huhuhuhu...... Diki, aku kangen Dito hiks hiks.... Dito meninggal gara-gara aku, aku bersalah pada Dito hiks hiks.... Bahkan aku tidak sempat membalas tiga kata terakhir dari Dito, aku payah hiks hiks....” rengek Silvi. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri, semua sudah jadi rencana-Nya. Aku juga merindukan Dito. Sekarang anggap aku Dito dan keluarkan semua unek-unek yang ingin kamu katakan kepada Dito” jawab Diki menenangkan Silvi. Silvi pun tak segan lagi untuk menumpahkan semua unek-uneknya kepada Diki. Setelah Silvi tenang, Diki kembali melajukan mobilnya menuju gedung resepsi. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan.

Matahari menyingsing, jam berdetik menunjukkan pukul 08.00 tampak di dalam dan luar gedung dipenuhi tamu undangan.Semua orang sangat bahagia saat ini .Namun saat Diki mau memasuki gedung tersebut dengan pakai yang sudah sangat rapi dan menyebrang jalan ada sebuah mobil yang melaju tapi itu semua tidak luput dari tatapan mata papa Silvi, akhirnya papa Silvi lah yang tetabrak.Cobaan apalagi ini, di saat yang berbahagia seperti ini untuk kedua kalinya Silvi merasa hancur di saat bahagia karena kehilangan orang yang sangat ia banggakan,cintai dan sayangi.

Diki langsung berlari ke papa Silvi, dan papa Silvi berkata”Jaga dan sayangi anak om serta cintai dia dan lindungilah dia samapi nafas penghabisan mu ya,om mohon,sekarang dia adalah tanggung jawab yang om berikan padamu,hanya itu permintaan om untuk terakhir ini,kamu janji?iya saya janji om,tapi om harus bertahan dulu untuk kami semua,aku mohon om” ucap Diki dengan suara yang bergetar dan ada genangan air mata di pelipis matanya. Setelah mengucapkan janji tersebut nyawa papa Silvi pun tidak ada lagi, Silvi terlambat karena jarak salon dan gedung yang cukup jauh. 

Akhirnya Silvi hanya bisa menangis dan menangis untuk kesekian kalinya, di hari yang bahagia ia harus mengantarkan papa nya menuju peristirahatan terakhirnya. Disana semua orang sangat bersedih mulai dari kerabat Diki dan Silvi, serta sahabatnya dan terutama mama nya Silvi. Tapi semua orang saling menguatkan disana, saling memberi kekuatan agar tegar menghadapi semua ini. Setelah pemakaman di lakukan, Diki pergi kekantor polisi untuk menyelesaaikan tabrak lari yang telah terjadi, dan tersangkanya adalah orang yang sama saat tabrak lari Dito., orang tersebut mempunyai maksud yaitu ingin menghancurkan keluarga Silvi karena mempunyai dendam terhadap papa Silvi selama ini. Akhirnya ia melampiaskannya pada keluarga tersebut. Setelah semua masalah selesai, pernikahan Silvi dan Diki tetap dilanjutkan walaupun 1 bulan setelah kejadian yang memilukan tersebut. Akhirnya pernikahan dialaksanakan tanpa ada ganguan lagi tapi Silvi merasa sangat sedih karena sosok figur ayah yang selama ini.

Selalu ada tidak ada lagi, isak tangis pun pecah setelah resepsi. Namun mama Silvi dan Diki selalu menguatkan Silvi untuk selalu bahagia atas semua yang terjadi karena itu adalah masalalu, kita saat ini bukan memikirkan masalalu tapi masadepan untuk menjadikan hidup lebih baik lagi, itu lah kata-kata yang keluar dari semua orang, namun bagi Selvi masalalu adalah sebuah pelajaran yang sangat beharga bagi dirinya, karena ia dapat merasakan pahit dan manis nya dunia yang telah di laluinya. Setelah 3 tahun berlalu, keluarga kecil yang Selvi idamkan selama ini akhirnya terwujudkan dengan seorang suami yang selalu ada di saat ia butuh dan seorang anak laki-laki yang sangat mengemaskan, lucu dan tampan mirip dengan papanya yaitu Diki Anggara, sekarang diki membuka sebuah perusahaan dan melanjutkan perusahaan papa nya tidak lupa juga Silvi juga mempunyai butik dan toko kue yang sangat terkenal. Saat ini Selvi sedang menunggu Diki dari luar negeri, ia dan anaknya sangat senang karena suaminya akan pulang setelah 2 minggu di luar negeri, tapi itu sirna saat ia mendapatkan berita bahwa suaminya mengalami kecelakaan pesawat. 

Silvi pun dengan air mata dan hati yang sangat rapuh pergi ke bandara untuk memastikan hal tersebut, setelah sampai di bandara ia mencari nama korban dalam pesawat tersebut, namun nama Diki tidak ada di daftar tersebut. Setelah menunggu selama 3 jam akhir ada pesawat yang baru datang, tapi Silvi tidak memperdulikan hal tersebut karena sibuk mencari nama Diki namun nihil hasilnya juga tidak ada.Akhirnya ia pulang karena dibujuk sang mama.samapi di rumah Silvi sangat lesu danpucat kayak orang tanpa ada kehidupan.

Sampai depan rumah iya membuka pintu dan membaca salam tapi lampu rumah mati semua,dan ia membatin”kemana semua orang?apakah semua orang ingin meninggalkan ku juga?aku mohon....dimana kalian semua?jangan tinggallkan aku....aku mohon......”isak suara tangis Silvi yang sangat memilukan......Tanpa ia sadari ada seseorang dari belakan yang membawa sebuah kue yang di hiasi lilin yang sangat cantik, dan orang itu bersuara”HAPPY ANNIVERSERY HONEY”dengan suara yang sangat lantang Diki mengatakan hal tersebut kemudian lampu pun hidup dengan dekorasi rumah yang sangat bagus tanpa bisa Silvi ucapkan dengan kata-kata. Semua orang ada disana mulai dari sahabat, keluarga dan anaknya yang sangat ia sayangi, ia sungguh tidak inggat bahwa hari ini adalah hari sangat penting dalam pernikahannya karena terlalu khawatir saat orang yang sangat ia sayangi dalam keadaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi, itu semua adalah rencana suaminya yaitu Diki. 

Setelah lampu hidup semua Silvi langsung belari ke pelukan Diki dan memeluknya dengan sangat erat karena rasa tak ingin kehilangan lagi dan Diki pun membalas pelukan tersebut dengan sangat hangat. “Aaahhh romantis sekali kalian ini, membuat para jomblo pada iri....” itu lah ucap semua orang yang merasa jomblo ya. Diki dan Silvi hanya membalas dengan kekehan dan senyuman. Saat acara pemotongan kue datang lah anak kecil yang sangat ganteng ke pelukan Diki yaitu putranya, eh iya putra bernama Muhammad Dito Anggara. Ya nama itu adalah nama saudara kembarnya, namun mereka sepakat bahwa anak mereka dinamakan itu karena mereka ingin melihat Dito yang versi baru dalam kehidupan mereka walaupun nama itu mengingatkan akan masalalu yang pahit tapi mereka tak merpersalahkan itu. 

Akhirnya kehidupan dan masa depan yang di inginkan setelah melalui rintangan dan masalah yang tiada akhir ini berbuah manis dengan senyuman dan kebahagian yang tidak mungkin akan di dapatkan orang lain. Silvi sangat berterimah kasih apsa yang maha kuasa karena telah meberikan peljaran yang sangat berharga dalam hidupnya, dan mendatangkan orang yang sangat sayang padanya serta keluarga kecil yang sangat harmonis dan penuh kasih sayang. Silvi tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata lagi kebahagian yang telah ia dapatkan dan ia hanya bisa berkata kepada Diki “I LOVE YOU SO MUCH MY PERFECT HUSBAND” lalu Diki pun menjawab “I LOVE YOU TOO” dan disambut pelukan hangat lagi bersama anaknya, lalu Silvi membatin” i love you Dito and i miss you”.

Inilah akhir kehidupan Diki dan Silvi. Kehidupan harus dijalani walaupun sesulit apakah rintangan dan masalah yang di hadapi. Hadapilah rintangan tersebut dengan tegar dan tersenyum, karena setiap rintangan akan membuaahkan sebuah rasa manis yang tidak akan di dapatkan semua orang. Jadi jalani lah kehidupan dengan sebaik-baiknya tanpa rasa menyerah. Dan jangan tunggu kata- kata terakhir untuk mengungkapkan perasaan kepada seseorang. Ucapkanlah kata tersebut ketika hati dan pemikiran mu sudah sejalan maka lakukanlah, supaya tidak ada lagi tiga kata terakhir dalam kehidupan ini.

Pengirim : Eva Nur Fitriyani (Email : evanurfitriani29@gmail.com) - Jurusan Hukum Ekonomi Syariat UIN Saizu Purwokerto

Ingin karya tulis Anda terpublikasi di situs web www.salamedukasi.com GRATIS,  info lebih lanjut silahkan klik di sini.

0 Response to "Cerpen “Tiga Kata Terakhir” Oleh Eva Nur Fitriyani Jurusan Hukum Ekonomi Syariat UIN Saizu Purwokerto"

Post a Comment